Monday, September 30, 2013

TELEMATIKA

PENDAHULUAN

Para praktisi mengatakan bahwa TELEMATIKA merupakan paduan dari dua kata yaitu telekomunikasi dan informasi yang merupakan perpaduan dari konsep COMPUTING AND COMMUNICATION. Tetapi dalam bahasa perancis telematika disebut TELEMATIQUE yang merujuk pada bertemunya system jaringan komunikasi dengan teknnologi informasi. Semula media masih belum menjadi bagian integral dari isu konversi teknologi informasi dan komunikasi pada saat itu. Belakangan baru disadari bahwa penggunaan system computer ternyata juga menghadirkan media komunikasi baru. Konversi dari telematika kemudian dipahami sebagai system elektronik berbasiskan teknologi digital, karena istilah muitimedia semulanya hanya merujuk pada kemampuan system computer untuk mengolah informasi dalam berbagai medium. Secara garis besar istilah teknologi informasi, telematika, dan multimedia mungkin tidak jauh berbeda maknanya, namun sebagai definisi sangat tergantung kepada lingkup dan sudut pandang pengkajiannya.

TEORI

Telematika adalah singkatan dari Telekomunikasi dan Informatika. Istilah telematika sering dipakai untuk beberapa macam bidang, diantaranya : Integrasi antara sistem telekomunikasi dan informatika yang dikenal sebagai Teknologi Komunikasi dan Informatika atau ICT (Information and Communications Technology). Secara lebih spesifik, ICT merupakan ilmu yang berkaitan dengan pengiriman, penerimaan dan penyimpanan informasi dengan menggunakan peralatan telekomunikasi.

Telekomunikasi adalah teknik pengiriman atau penyampaian infomasi, dari suatu tempat ke tempat lain. Dalam kaitannya dengan ‘Telekomunikasi’ bentuk komunikasi jarak jauh dapat dibedakan atas tiga :

1. Komunikasi Satu Arah (Simplex). Dalam komunikasi satu arah (Simplex) pengirim dan penerima informasi tidak dapat menjalin komunikasi yang berkesinambungan melalui media yang sama. Contoh ager, televisi, dan radio.

2. Komunikasi Dua Arah (Duplex). Dalam komunikasi dua arah (Duplex) pengirim dan penerima informasi dapat menjalin komunikasi yang berkesinambungan melalui media yang sama. Contoh : Telepon dan VOIP.

3. Komunikasi Semi Dua Arah (Half Duplex). Dalam komunikasi semi dua arah (Half Duplex)pengirim dan penerima informsi berkomunikasi secara bergantian namun tetap berkesinambungan. Contoh :Handy Talkie, FAX, dan Chat Room

Informatika (Inggris: Informatics) merupakan disiplin ilmu yang mempelajari transformasi fakta berlambang yaitu data maupun informasi pada mesin berbasis komputasi. Disiplin ilmu ini mencakup beberapa macam bidang, termasuk di dalamnya: sistem informasi, ilmu komputer, ilmu informasi, teknik komputer dan aplikasi informasi dalam sistem informasi manajemen. Secara umum informatika mempelajari struktur, sifat, dan interaksi dari beberapa sistem yang dipakai untuk mengumpulkan data, memproses dan menyimpan hasil pemrosesan data, serta menampilkannya dalam bentuk informasi. Aspek dari informatika lebih luas dari sekedar sistem informasi berbasis komputer saja, tetapi masih banyak informasi yang tidak dan belum diproses dengan komputer.

Perkembangan Telematika Di Indonesia

1. Periode Rintisan
Memasuki tahun 1980-an, perubahan secara signifikanpun jauh dari harapan. Walaupun demikian, selama satu dasawarsa, learn to use teknologi informasi, telekomunikasi, multimedia, mulai dilakukan. Jaringan telpon, saluran televisi nasional, stasiun radio nasional dan internasional, dan komputer mulai dikenal di Indonesia, walaupun penggunaannya masih terbatas.

2. Periode Pengenalan 
Periode satu dasawarsa ini, tahun 1990-an, teknologi telematika sudah banyak digunakan dan masyarakat mengenalnya. Jaringan radio amatir yang jangkauannya sampai ke luar negeri marak pada awal tahun 1990. hal ini juga merupakan efek kreativitas anak muda ketika itu.

3. Periode Aplikasi
Awal era millennium inilah, pemerintah Indonesia serius menanggapi perkembangan telematika dalam bentuk keputusan politik, selanjutnya, teknologi mobile phone begitu cepat pertumbuhannya. Bukan hanya dimiliki oleh hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia, fungsi yang ditawarkan terbilang canggih. Muatannya antara 1 Gigabyte, dapat berkoneksi dengan internet juga stasiun televisi, dan teleconference melalui 3G. Teknologi komputer demikian, kini hadir dengan skala tera (1000 Gigabyte), multiprocessor, multislot memory, dan jaringan internet berfasilitas wireless access point. Bahkan, pada cafe dan kampus tertentu, internet dapat diakses dengan mudah, dan gratis.

ANALISIS

Perkembangan dan kemajuan dari telematika tentunya dapat mengantarkan bangsa kita menjadi bangsa yang maju, yang serba menggunakan teknologi dan dapat melakukan komunikasi cepat kapanpun dan dimanapun.
Telematika memberikan dukungan terhadap manajemen dan pelayanan kepada masyarakat berupa sarana telekomunikasi yang memudahkan masyarakat saling berinteraksi tanpa terhalang jarak. Dengan telematika, proses komunikasi menjadi mudah sehingga mudah pula untuk menyebarkan informasi dari satu daerah ke daerah lain. Jadi dapat dikatakan bahwa telematika dapat mengoptimalkan pembangunan.
Produk dan jasa teknologi telematika merupakan komoditas yang memberikan peningkatan pendapatan bagi perseorangan, dunia usaha bahkan negara dalam bentuk devisa hasil ekspor jasa dan produk industri telematika dengan demikian telematika tentunya dapat meningkatkan pendapatan.
Teknologi telematika mampu menyatukan bangsa melalui pengembangan sistem informasi yang menghubungkan semua institusi dan area dengan cepat tanpa terhalang jarak daerah masing-masing. Dengan kata lain telematika menjadi pemersatu bangsa.

REFERENSI


Sunday, May 12, 2013

Silogisme

Silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposisi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan). Silogisme terdiri dari ; Silogisme Katagorik, Silogisme Hipotetik dan Silogisme Disyungtif.

a. Silogisme Katagorik

Silogisme Katagorik adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan katagorik. Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat dibedakan dengan premis mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan premis minor ( premis yang termnya menjadi subjek). Yang menghubungkan diantara kedua premis tersebut adalah term penengah (middle term).
Contoh :
-Semua Tanaman membutuhkan air  (premis mayor)….M…..P
-Akasia adalah Tanaman (premis minor)….S…..M
=Akasia membutuhkan air (konklusi) ….S…..P
(S = Subjek, P = Predikat, dan M = Middle term)

Hukum-hukum Silogisme Katagorik

1. Apabila dalam satu premis partikular, kesimpulan harus partikular juga, seperti:
-Semua yang halal dimakan menyehatkan
-Sebagian makanan tidak menyehatkan,
=Jadi Sebagian makanan tidak halal dimakan
(Kesimpulan tidak boleh: Semua makanan tidak halal dimakan).

2. Apabila salah satu premis negatif, kesimpulan harus negatif juga, seperti:
-Semua korupsi tidak disenangi.
-Sebagian pejabat adalah korupsi, jadi
=Sebagian pejabat tidak disenangi.
(Kesimpulan tidak boleh: Sebagian pejabat disenangi)

3. Dari dua premis yang sama-sama partikular tidak sah diambil kesimpulan.
-Beberapa politikus tidak jujur.
-Banyak cendekiawan adalah politikus, jadi:
=Banyak cendekiawan tidak jujur.

4. Dari dua premis yang sama-sama negatif,tidak menyimpulkan apa pun, karena tidak ada mata rantai yang menghubungkan kedua proposisi premisnya. Kesimpul diambil bila sedikitnya salah satu premisnya positif. Kesimpulan yang ditarik dari dua premis negatif adalah tidak sah.
-Kerbau bukan bunga mawar.
-Kucing bukan bunga mawar….. (Tidak ada kesimpulan)

-Tidak satu pun drama yang baik mudah dipertunjukkan.
-Tidak satu pun drama Shakespeare mudah dipertunju
=Jadi: Semua drama Shakespeare adalah baik. (Kesimpulan tidak sah)

5. Paling tidak salah satu dari term penengah haru: (mencakup). Dari dua premis yang term penengahnya tidak ten menghasilkan kesimpulan yang salah, seperti:
-Semua ikan berdarah dingin.
-Binatang ini berdarah dingin
=Jadi: Binatang ini adalah ikan. (Padahal bisa juga binatang melata)

6. Term-predikat dalam kesimpulan harus konsisten dengan term redikat yang ada pada premisnya. Bila tidak, kesimpulan lenjadi salah, seperti
-Kerbau adalah binatang.
-Kambing bukan kerbau.
=Jadi: Kambing bukan binatang.
(‘Binatang’ pada konklusi merupakan term negatif sedangkan pada premis adalah positif)

7. Term penengah harus bermakna sama, baik dalam premis layor maupun premis minor. Bila term penengah bermakna mda kesimpulan menjadi lain, seperti:
-Bulan itu bersinar di langit.
-Januari adalah bulan.
=Jadi : Januari bersinar di langit. (Bulan pada premis minor adalah nama dari ukuran waktu yang panjangnya 31 hari, sedangkan pada premis mayor berarti planet yang mengelilingi bumi).

8. Silogisme harus terdiri tiga term, yaitu term subjek, preidkat, dan term menengah ( middle term ), begitu juga jika terdiri dari dua atau lebih dari tiga term tidak bisa diturunkan komklsinya.


b. Silogisme Hipotetik

Silogisme Hipotetik adalah argumen yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik, sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorik.

Ada 4 (empat) macam tipe silogisme hipotetik:
a. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian antecedent, seperti :
Jika hujan, saya naik becak. Sekarang hujan. Jadi saya naik becak.
b. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagiar konsekuennya, seperti:
Bila hujan, bumi akan basah. Sekarang bumi telah basah. Jadi hujan telah turun.
c. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari antecedent, seperti:
Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa, maka kegelisahan akan timbul.
Politik pemerintahan tidak dilaksanakan dengan paksa, Jadi kegelisahan tidak akan timbul.
d. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari bagian konsekuennya, seperti:
Bila mahasiswa turun ke jalanan, pihak penguasa akan gelisah Pihak penguasa tidak gelisah. Jadi mahasiswa tidak turun ke jalanan.

Hukum-hukum Silogisme Hipotetik

Mengambil konklusi dari silogisme hipotetik jauh lebih mudah dibanding dengan silogisme kategorik. Tetapi yang penting di sini dalah menentukan ‘kebenaran konklusinya bila premis-premisnya merupakan pernyataan yang benar.
Bila antecedent kita lambangkan dengan A dan konsekuen dengan B, jadwal hukum silogisme hipotetik adalah:

Bila A terlaksana maka B juga terlaksana.
Bila A tidak terlaksana maka B tidak terlaksana. (tidak sah = salah)
Bila B terlaksana, maka A terlaksana. (tidak sah = salah)
Bila B tidak terlaksana maka A tidak terlaksana.

Kebenaran hukum di atas menjadi jelas dengan penyelidikan berikut :

Bila terjadi peperangan harga bahan makanan membubung tinggi Nah, peperangan terjadi. Jadi harga bahan makanan membubung tinggi.( benar = terlaksana) Benar karena mempunyai hubungan yang diakui kebenarannya.
Bila terjadi peperangan harga bahan makanan membubung tinggi Nah, peperangan terjadi. Jadi harga bahan makanan tidak membubung tinggi (tidak sah = salah). Tidak sah karena kenaikan harga bahan makanan bisa disebabkan oleh sebab atau faktor lain.

c. Silogisme Disyungtif

Silogisme Disyungtif adalah silogisme yang premis mayornya keputusan disyungtif sedangkan premis minornya kategorik yang mengakui atau mengingkari salah satu alternatif yang disebut oleh premis mayor. Seperti pada silogisme hipotetik istilah premis mayor dan premis minor adalah secara analog bukan yang semestinya.

Silogisme ini ada dua macam, silogisme disyungtif dalam arti sempit dan silogisme disyungtif dalam arti luas.

Silogisme disyungtif dalam arti sempit mayornya mempunyai alternatif kontradiktif, seperti :
-la lulus atau tidak lulus.
-Ternyata ia lulus
= jadi la bukan tidak lulus.

Silogisme disyungtif dalam arti luas premis mayomya mempunyai alternatif bukan kontradiktif, seperti:
-Hasan di rumah atau di pasar.
-Ternyata tidak di rumah.
=Jadi di pasar.

Silogisme disyungtif dalam arti sempit maupun arti iuas mempunyai dua tipe yaitu:

1. Premis minornya mengingkari salah satu alternatif, konklusi-nya adalah mengakui alternatif yang lain, seperti:
-la berada di luar atau di dalam.
-Ternyata tidak berada di luar.
=Jadi ia berada di dalam.

2. Premis minor mengakui salah satu alternatif, kesimpulannya adalah mengingkari alternatif yang lain, seperti:
-Budi di masjid atau di sekolah.
-la berada di masjid.
=Jadi ia tidak berada di sekolah.

Hukum-hukum Silogisme Disyungtif
Silogisme disyungtif dalam arti sempit, konklusi yang dihasilkan selalu benar, apabila prosedur penyimpulannya valid, seperti :
-Hasan berbaju putih atau tidak putih.
-Ternyata berbaju putih.
=Jadi ia bukan tidak berbaju putih.

Silogisme disyungtif dalam arti luas, kebenaran koi adalah sebagai berikut:

Bila premis minor mengakui salah satu alterna konklusinya sah (benar), seperti:
-Budi menjadi guru atau pelaut.
-la adalah guru.
=Jadi bukan pelaut

Bila premis minor mengingkari salah satu a konklusinya tidak sah (salah), seperti:
-Penjahat itu lari ke Solo atau ke Yogya.
-Ternyata tidak lari ke Yogya.
=Jadi ia lari ke Solo. (Bisa jadi ia lari ke kota lain).

-Budi menjadi guru atau pelaut.
-Ternyata ia bukan pelaut.
Jadi ia guru. (Bisa jadi ia seorang pedagang).

Penalaran Induktif


Pengertian Penalaran Induktif

Metode penalaran induktif adalah adalah suatu penalaran yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Untuk turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak harus memliki konsep secara canggih tetapi cukup mengamati lapangan dan dari pengamatan lapangan tersebut dapat ditarik generalisasi dari suatu gejala. Dalam konteks ini, teori bukan merupakan persyaratan mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan memahami gejala merupakan kunci sukses untuk dapat mendiskripsikan gejala dan melakukan generalisasi.

Ada 3 jenis penalaran induksi, yaitu :

1. Generalisasi

Generalisasi adalah suatu proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fenomenal individual untuk menurunkan suatu inferensi yang bersifat umum yang mencakup semua fenomena. Generalisasi juga dapat dikatakan sebagai pernyataan yang berlaku umum untuk semua atau sebagian besar gejala, yang dimulai dengan peristiwa – peristiwa khusus untuk mengambil kesimpulan secara umum.

Contoh :
Bila seorang berkata bahwa mobil adalah semacam kendaraan pengangkut, maka pengertian mobil dan kendaraan pengangkut merupakan hasil generalisasi juga. Dari bermacam – macam tipe kendaraan dengan ciri – ciri tertentu ia mendapatkan sebuah gagasan mengenai mobil, sedangkan dan bermacam – macam alat untuk mengangkut sesuatu lahirlah abstraksi yang lebih tinggi ( = generalisasi lagi ) mengenai kendaraan pengangkut.

Generalisasi dibedakan dari segi bentuknya ada 2, yaitu :
loncatan induktif dan yang bukan loncatan induktif. (Gorys Keraf, 1994 : 44-45)

Generalisasi Tanpa Loncatan Induktif (Generalisasi tidak sempurna)
Sebuah generalisasi bila fakta-fakta yang diberikan cukup banyak dan menyakinkan, sehingga tidak terdapat peluang untuk menyerang kembali. Misalnya, untuk menyelidiki penyakit yang sering diderita oleh orang Indonesia pada umumnya, diperlukan ratusan sample untuk menyimpulkannya.

Contoh :
Hampir seluruh orang di Indonesia menderita sakit magh.

Generalisasi yang tidak sempurna juga dapat menghasilkan kebenaran apabila melalui prosedur pengujian yang benar.

Prosedur pengujian atas generalisasi tersebut adalah:
1. Jumlah sampel yang diteliti terwakili.
2. Sampel harus bervariasi.
3. Mempertimbangkan hal-hal yang menyimpang dari fenomena umum/ tidak umum.

Generalisasi Dengan Loncatan Induktif (Generalisasi sempurna)

Dalam loncatan induktif suatu fenomena belum mencerminkan seluruh faktayang ada. Fakta-fakta tersebut yang digunakan dianggap sudah mewakili seluruh persoalan yang diajukan. Dengan demikian loncatan induktif dapat diartikan sebagai loncatan dari sebagian evidensi kepada suatu generalisasi yang jauh melampauikemungkinan yang diberikan oleh ebidensi itu.

2. Analogi

Analogi yaitu proses membandingkan dari dua hal yang berlainan berdasarkan kesamaannya kemudian berdasarkan kesamaannya itu ditarik suatu kesimpulan. Kesimpulan yang diambil dengan analogi, yaitu kesimpulan dari pendapat khusus dengan beberapa pendapat khusus yang lain, dengan cara membandingkan kondisinya.

Tujuan Analogi
    - Meramalkan kesamaan
    - Menyingkap kekeliruan
    - Menyusun sebuah klasifikasi

Contoh :

Banyak yang tertarik dengan planet Mars, karena banyak persamaannya dengan bumi kita. Mars dan Bumi menjadi anggota tata surya yang sama. Mars mempunyai atsmosfir seperti Bumi. Temperaturnya hampir sama dengan Bumi. Unsur air dan oksigennya juga ada. Caranya mengelilingi matahari menyebabkan pula timbulanya musim seperti di Bumi. Jika di Bumi ada makhluk, tidaklah mungkin ada mahluk hidup di planet Mars.


3. Kausal

Kausal adalah paragraph yang dimulai dengan mengemukakan fakta khusus yang menjadi sebab, dan sampai pada simpulan yang menjadi akibat. Serta bahwa setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta kekhususan-kekhususan eksistensinya dari sesuatu atau berbagai hal lainnya yang mendahuluinya , merupakan hal-hal yang diterima tanpa ragu dan tidak memerlukan sanggahan.

Contoh :
    Pada kata dewa-dewi, putra-putri, pemuda-pemudi, dan karyawan-karyawati.

Tujuan Kausal
Tujuan kausal terdapat dalam Hubungan Kausal Dapat berlangsung dalam tiga pola :
a. Sebab ke akibat
    Dari peristiwa yang dianggap sebagai sebab menuju kesimpulan sebagai efek.
b. Akibat ke sebab
    Dari peristiwa yang dianggap sebagai akibat menuju sebab yang mungkin telah menimbulkan akibat.
c. Akibat ke akibat
    Dari akibat ke akibat yang lain tanpa menyebut sebab umum yang menimbulkan kedua akibat.

Contoh :
Pada sabtu sore terjadi badai salju, akibatnya jalanan ditutup karena dipenuhi oleh salju.

Sunday, April 14, 2013

Penulisan Ilmiah mengenai Cerpen


BAB I
PENDAHULUAN

 A. Latar Belakang Masalah
Cerpen merupakan salah satu jenis karya sastra yang jauh lebih muda usianya dibandingkan dengan puisi dan novel. Tonggak penting penulisan cerpen di Indonesia dimulai Muhamad Kasim dan Suman Hasibuan pada awal 1910-an.
Di era modern sekarang ini, tema – tema dalam penulisan cerpen sudah sangat berfariasi dan beragam. Bukan hanya tema, jumlah pengarang atau penulis novel pun dapat dikatakan tidak sedikit lagi. Berfariasinya tema dalam cerpen, secara tidak langsung berakibat pada meningkatnya jumlah pembaca ataupun peminat bacaan-bacaan cerpen.
Akan tetapi, pasti ada sebagian diantara Anda yang belum mengetahui tentang cerpen. Bagaimana ciri-ciri cerpen ? Bagaimana unsur-unsur cerpen, dan banyak lagi. Sehubungan dengan hal tersebut, karya tulis ini akan membahas dan menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas.

B. Perumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan cerpen?
2. Apa sajakah unsur-unsur yang ada dalam cerpen?
3. Apa sajakah ciri-ciri cerpen?
4. Nilai-nilai apa sajakah yang kita dapatkan dalam pembacaan cerpen?

C. Ruang Lingkup
Didalam pembuatan karya tulis ini kami akan membahas mengenai defenisi cerpen. Kami juga akan membahas mengenai beberapa hal, yaitu :
1.Ciri-ciri yang terdapat pada cerpen.
2. Unsur-unsur yang ada pada cerpen.
4. Nilai-nilai yang terdapat dalam cerpen.

D. Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar belakang yang menjadi alasan kami membuat karya ilmiah ini, kami menyusun karya ilmiah ini dengan tujuan untuk:
1. Memberitahukan kepada pembaca menganai pengertian cerpen, ciri cerpen, unsur cerpen dan nilai-nilai yang terkandung dalam cerpen.
2. Menumbuhkan minat pembaca tentang karya sastra khususnya cerpen.
3. Untuk melengkapi tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia.

E.  Manfaat Penulisan
Kami mengharapkan agar para pembaca dapat memperoleh manfaat setelah membaca karya tulis ini. Manfaat-manfaat tersebut diantaranya:
1. Menambah pengetahuan pembaca mengenai karya sastra terutama tentang cerpen.
2. Sebagai sumber referensi bagi para siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas Bahasa Indonesia khususnya yang berhubungan dengan cerpen.

F.  Metode Penulisan
Dalam membuat karya ilmiah ini, kami menggunakan metode studi pustaka dan studi internet. Kami mempelajari beberapa buku referensi dan beberapa bacaan di internet yang sesuai dengan permasalahan yang kami bahas dalam karya ilmiah ini.

G. Sistematika Penulisan
Bab I PENDAHULUAN
Bab pertama ini terdiri atas beberapa subbab, yang meliputi: latar belakang, perumusan masalah, ruang lingkup, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
Bab II PEMBAHASAN
Bagian pembahasan ini meliputi: pengertian cerpen, ciri-ciri cerpen, unsur-unsur cerpen, menulis cerpen, dan nilai-nilai dalam cerpen.
BAB III PENUTUP
Pada bab terakhir ini terdapat dua subbab, yaitu sebagai berikut: kesimpulan dan saran.

BAB II
PEMBAHASAN

 A. Pengertian Cerpen
Cerpen atau dalam Bahasa Inggris dikenal dengan istilah short story merupakan salah satu genre sastra yang jauh lebih muda usianya dibandingkan dengan puisi dan novel. Tonggak penting sejarah penulisan cerpen di Indonesia dimulai Muhammad Kasim dan Suman Hasibuan pada awal 1910-an. Cerita pendek apabila diuraikan menurut kata yang membentuknya berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut: Cerita artinya tuturan yang membentang bagaimana terjadinya suatu hal, sedangkan pendek berarti kisah pendek (kurang dari 10000 kata) yang memberikan kesan tunggal dan dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam situasi atau suatu ketika (1988:165).
Dari pengertian diatas maka kami menyimpulkan bahwa cerpen adalah karangan nasihat yang bersifat fiktif, hanya mengisahkan satu peristiwa (konflik tunggal), tetapi menyelesaikan semua tema dan persoalan secara tuntas dan utuh. Awal cerita (opening) ditulis secara menarik dan mudah diingat oleh pembacanya. Kemudian pada bagian akhir  (ending) ditutup dengan suatu kejutan (surprise).

B. Ciri-Ciri Cerpen
Secara umum ciri-ciri cerpen meliputi:
∞ dibaca sekali duduk (1-2 jam),
∞ panjang cerita kurang dari  kata sepuluh ribu kata,
∞ ceritanya singkat dan padat,
∞ menggambarkan sebagian kehidupan tokoh,
∞ menggunakan alur tunggal,
∞ sumber cerita dari pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, dan
∞ ceritanya kurang kompleks dibandingkan dengan novel.

C. Unsur-Unsur Cerpen

1. Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual dapat dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur intrinsik dalam karya sastra khususnya cerpen, meliputi tokoh/ penokohan, alur (plot), gaya bahasa, sudut pandang, latar (setting), tema, dan amanat.
Berikut ini penjelasan mengenai unsur-unsur tersebut :

a. Tokoh dan Karakter Tokoh
Istilah tokoh menunjuk pada orangnya, sedangkan watak, perwatakan, atau karakter menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh yang menggambarkan kualitas pribadi seorang tokoh. Tokoh cerita menempati posisi strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan, amanat, atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca. Secara umum kita mengenal tokoh protagonis dan antagonis. Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi, tokoh yang merupakan pengejahwantahan norma-norma, nilai-nilai yang ideal bagi kita. Tokoh protagonis menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan dan harapan pembaca. Adapun tokoh antagonis adalah tokoh yang menyebabkan terjadinya konflik.Tokoh antagonis merupakan penentang tokoh protaginis.
b. Latar (setting)
Latar dalam sebuah cerita menunjuk pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Hal ini penting untuk memberikan kesan realistis pada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi. Unsur latar dapar dibedakan kedalam tiga pokok unsur, yaitu sebagai berikut:
» Latar Tempat
Latar tempat merujuk pada lokasi terjadinya peristiwa. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu.
» Latar Waktu
Latar waktu berhubungan dengan “kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.
» Latar Sosial
Latar sosial merujuk pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Latar sosial dapat berupa kebiasaan hidup, istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, serta hal-hal lainnya.

c. Alur (Plot)
Alur adalah urutan peristiwa yang berdasarkan hukum sebab-akibat. Alur tidak hanya mengemukakan apa yang terjadi, akan tetapi menjelaskan mengapa hal ini terjadi. Kehadiran alur dapat membuat cerita berkesinambungan. Oleh karena itu, alur biasa disebut juga susunan cerita atau jalan cerita.

Tahapan alur dalam sebuah cerita dibagi atas beberapa bagian sebagai berikut.
- Pengantar: tahap ini merupakan tahap pembukaan cerita atau pemberian informasi awal, terutama berfungsi untuk melandasi cerita yang dikisahkan pada tahap berikutnya.
- Penampilan masalah: Tahap ini merupakan tahap awal munculnya konflik. Konflik itu sendiri akan berkembang menjadi konflik-konflik pada tahap berikutnya. Peristiwa yang menjadi inti cerita semakin mencengangkan dan menegangkan.
- Puncak ketegangan/ klimaks: konflik-konflik yang terjadi atau ditimpakan kepada para tokoh cerita mencapai tilik intensitas puncak. Klimaks sebuah cerita akan dialami oleh tokoh-tokoh utama yang berperan sebagai pelaku dan penderitaan terjadinya terjadinya konflik utama.
- Ketegangan menurun/ antiklimaks: Konflik yang telah mencapai klimaks diberi penyelesaian. Keteganagn dikendurkan. Konflik-konflik tambahan (jika ada) juga diberi jalan keluar, kemudian cerita diakhiri. Tahap ini disesuaikan dengan tahap akhir diatas.
- Penyelesaian/ resolusi: pada tahap ini konflik telah diatasi atau diselesaikan oleh para tokoh. Cerita dapat diakhiri dengan gembira (happy ending) atau sedih (sad ending)

d. Sudut Pandang (Point Of View)
Sudut pandang adalah visi pengarang dalam memandang suatu peristiwa dalam cerita. Untuk mengetahui sudut pandang, kita dapat mengajukan pertanyaan siapakah yang menceritakan kisah tersebut? Sudut pandangan ini ada beberapa jenis, tetapi yang umum adalah:

» Sudut pandangan orang pertama; Lazim disebut point of view orang pertama. Pengarang menggunakan sudut pandang “aku” atau “saya”. Disini yang harus diperhatikan adalah pengarang harus netral dengan “aku” dan “saya” nya.
»  Sudut pandang orang ketiga; Biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia” atau “dia”. Atau bisa juga dengan menyebut nama tokohnya seperti “Fajar”, “Rajab”, “Agung” dan lain-lain.
» Sudut pandang campuran; Dimana pengarang membaurkan antara pendapat pengarang dan tokoh-tokohnya. Seluruh kejadian dan aktivitas tokoh diberi komentar dan tafsiran, sehingga pembaca mendapat gambaran mengenai tokoh dan kejadian yang diceritakan. Dalam “Sekelumit Nyanyian Sunda”, Nasjah Djamin sangat baik menggunakan tekhnik ini.
  e. Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah cara khas penyusunan dan penyampaian dalam bentuk tulisan dan lisan. Ruang lingkup dalam tulisan meliputi penggunaan kalimat, pemilihan diksi, penggunaan majas, dan penghematan kata.Jadi, gaya bahasa merupakan seni pengungkapan seorang pengarang terhadap karyanya.

  f. Tema
Tema disebut juga ide cerita. Tema dapar berwujud pengamatan pengarang terhadap berbagai peristiwa dalam kehidupan ini. Dalam sebuah cerpen tema bisa disamakan dengan pondasi sebuah bangunan. Tidaklah mungkin mendirikan sebuah bangunan tanpa pondasi. Dengan kata lain tema adalah sebuah ide pokok, pikiran utama sebuah cerpen; pesan atau amanat. Dasar tolak untuk membentuk rangkaian cerita; dasar tolak untuk bercerita. Tidak mungkin sebuah cerita tidak mempunyai ide pokok. Yaitu sesuatu yang hendak disampaikan pengarang kepada para pembacanya. Sesuatu itu biasanya adalah masalah kehidupan, komentar pengarang mengenai kehidupan atau pandangan hidup si pengarang dalam menempuh kehidupan luas ini. Pengarang tidak dituntut menjelaskan temanya secara gamblang dan final, tetapi ia bisa saja hanya menyampaikan sebuah masalah kehidupan dan akhirnya terserah pembaca untuk menyikapi dan menyelesaikannya.

g. Amanat
Melalui amanat, pengarang dapat menyampaikan sesuatu, baik hal yang bersifat positif maupun negatif. Dengan kata lain amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang berupa pemecahan atau jalan keluar terhadap persoalan yang ada dalam cerita.

2.  Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur yang menunjang karya sastra yang berasal dari luar karya sastra itu sendiri, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangun cerita sebuah karya. Yang termasuk unsur-unsur ekstrinsik adalah sebagai berikut:
1. Keadaan subjektivitas pengarang yang memiliki sikap, keyakinan dan pandangan hidup.
2. Psikologi pengarang (yang mencakup proses kreatifnya), psikologi pembaca, dan penerapan prinsip-prinsip psikologi dalam sastra.
3. Keadaan di lingkungan pengarang seperti ekonomi, politik, dan sosial.
4. Pandangan hidup,suatu bangsa dan berbagai karya seni lainnya.

D. Nilai-Nilai Dalam Cerpen
                Cerita pendek atau cerpen tidak hanya berisi rangkaian peristiwa. Ada hal penting yang disampaikan pembaca. Dalam cerpen seorang pengarang kadang menampilkan nilai-nilai kehidupan yang ada di dalam masyarakat. Hal tersebut diharapkan dapat menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman hidup pembaca. Pembaca cerpen menjadi lebih arif dan bijaksana dalam menyikapi kehidupan sekitar. Nilai kehidupan dapat ditemukan dalam cerpen melalui ucapan, pikiran, tindakan dan perasaan tokoh-tokoh cerita. Dibawah ini adalah beberapa nilai yang terdapat dalam cerpen :

1.  Nilai Moral
Secara umum, moral atau amanat dalam cerpen menyarankan pada pengertian baik buruk yang diterima umum mengenai suatu perbuatan, sikap, kewajiban dan sebagainya. Dalam hal ini, nilai-nilai dalam karya cerpen berhubungan dengan budi pekerti, susila atau akhlak. Moral dalam kata cerpen biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan, pandangannya tentang nilai-nilai kebenaran, dan yang ingin disampaikan kepada pembaca. Sebuah cerpen ditulis untuk menggambarkan model kehidupan yang diidealkannya. Fiksi mengandung penerapan moral dalam sikap dan tingkah laku para tokoh. Dalam karya cerpen, pesan moral berhubungan dengan sifat-sifat luhur kemanusiaan, memperjuangkan hak dan martabat.

2. Nilai Sosial
Nilai-nilai yang timbul dalam cerpen dilihat dari unsur sosialnya adalah:
a.    tokoh-tokoh yang diciptakan sebagai pelaku sosial keadaan ekonomi yang menggerakkan elemen sosial (simbol sosial)
c.    konflik yang dibangun antartokoh sehingga cerita terasa secara utuh dan mimesis kehidupan
d.   idiologi tokoh-tokohnya
e.   sejarah perkembangan manusia yang dilihat digambarkan dalam cerita

3. Nilai Budaya
Nilai-nilai kebudayaan terdapat dalam cerpen sebagai pembangun tema, karakter tokoh, latar, alur dan amanat. Nilai-nilai budaya yang biasa ditemukan berupa:
a. nilai kepercayaan manusia kepada Tuhannya,
b. nilai kebiasaan dalam bentuk kolektif atau ketradisian,
c. nilai kemanusiaan sebagai alat bermasyarakat, sikap berkomunikasi dalam mengkomunikasikan peradaban,
d. nilai estetika sebagai pencipta berkesenian,
e. nilai penghidupan untuk mempertahankan kehidupan,
f. nilai peradaban dan alat yang diciptakannya, dan
g. nilai politis sebagai alat bernegara. 

BAB III
PENUTUP

 A. Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan pada bab sebelumnya, kami menarik berbagai kesimpulan yaitu sebagai berikut :

1. Cerpen adalah karangan nasihat yang bersifat fiktif, hanya mengisahkan satu peristiwa (konflik tunggal), tetapi menyelesaikan semua tema dan persoalan secara tuntas dan utuh. Awal cerita (opening) ditulis secara menarik dan mudah diingat oleh pembacanya. Kemudian pada bagian akhir  (ending) ditutup dengan suatu kejutan (surprise).

2. Secara umum ciri-ciri cerpen meliputi:
∞ dibaca sekali duduk (1-2 jam),
∞ panjang cerita kurang dari 10.000 kata,
∞ ceritanya singkat dan padat,
∞ menggambarkan sebagian kehidupan tokoh,
∞ menggunakan alur tunggal,
∞ sumber cerita dari pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, dan
∞ ceritanya kurang kompleks dibandingkan dengan novel.

3.  Unsur intrinsik dalam karya sastra khususnya cerpen, meliputi tokoh/ penokohan, alur (plot), gaya bahasa, sudut pandang, latar (setting), tema, dan amanat. Sedangkan yang termasuk unsur-unsur ekstrinsik adalah sebagai berikut:
Keadaan subjektivitas pengarang yang memiliki sikap, keyakinan dan pandangan hidup.
Psikologi pengarang (yang mencakup proses kreatifnya), psikologi pembaca, dan penerapan prinsip-prinsip psikologi dalam sastra.
Keadaan di lingkungan pengarang seperti ekonomi, politik, dan sosial.
Pandangan hidup,suatu bangsa dan berbagai karya seni lainnya.

4.  Nilai-nilai yang terkandung pada cerpen ada tiga yaitu nilai moral (berhubungan dengan budi pekerti, susila atau akhlak), nilai sosial (nilai yang berhubungan dengan masalah-masalah sosial), dan nilai budaya (nilai-nilai yang berhubungan dengan kebudayaan).

B. Saran
Dari pembahasan dalam karya ilmiah ini, saran kami adalah sebagai berikut:

1.Tanamkanlah nilai-nilai baik dalam cerpen ke dalam diri Anda, dengan demikian segala macam yang kita perbuat akan sesuai dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat.

2. Isilah waktu kosong Anda untuk hal-hal yang berguna, misalnya menulis. Banyak manfaat menulis. Untuk menuangkan pikiran kita adalah salah satunya. Selain itu, jika tulisan kita menarik dan diminati banyak orang maka Anda akan memperoleh banyak keuntungan. Disamping itu tulisan Anda juga dapat memotivasi banyak orang.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa karya ilmiah ini masih belum sempurna dan untuk menjadi sempurna kami sangat membutuhkan masukan dari pihak lain. Untuk itu kami mengharapkan kepada semua pihak untuk memberikan berbagai masukan dan kritik demi perbaikan dan kesempurnaan karya ilmiah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Cipta Sari, Dhian. 2010. Buku Sakti: Materi dan Rumus Lengkap 6 in 1 kelas XI IPA. Yogyakarta: Kendi Mas Media.
Santoso, Gunawan Budi, dkk. 2009. Terampil Berbahasa Indonesia 2. Jakarta: Pusat Perbukuan Depdiknas.
Utami, Sri, dkk. 2008. Bahasa dan Sastra Indonesia Untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan Depdiknas.
Rahma Rahmaantika, Cerpen, 2011, Hal. 1,http://rahmarahmaantika.blogspot.com.
Unsilster, Pengertian Cerpen dan Ciri-Ciri Cerita Pendek, 2011, Hal. 1,http://unsilster.com.
Theron Parlin, Unsur dalam Sebuah Cerpen, 2012, Hal. 1,
Wikipedia, Cerita Pendek, 2010, Hal. 1-2, http://id.wikipedia.org.

Pengertian dan contoh Penalaran Deduktif

PENALARAN DEDUKTIF

Penalaran deduktif dikembangkan oleh aristoteles, thales, phytagoras dan para filsuf Yunani lainnya dari Periode Klasik (600-300 SM.). Aristoteles, misalnya, menceritakan bagaimana Thales menggunakan kecakapannya untuk mendeduksikan bahwa musim panen zaitun pada musim berikutnya akan sangat berlimpah. Karena itu ia membeli semua alat penggiling zaitun dan memperoleh keuntungan besar ketika panen zaitun yang melimpah itu benar-benar terjadi.
Penalaran deduktif memberlakukan prinsip-prinsip umum untuk mencapai kesimpulan-kesimpulan yang spesifik, sementara penalaran induktif menguji informasi yang spesifik, yang mungkin berupa banyak potongan informasi yang spesifik, untuk menarik suatu kesimpulan umum. Dengan memperkirakan fenomena bagaimana apel jatuh dan bagaimana planet-planet bergerak, Isaac Newton menyimpulkan teori daya tarik. Pada abad ke-19, Adams dan Leverrier menerapkan teori Newton (prinsip umum) untuk mendeduksikan keberadaan, massa, posisi, dan orbit Neptunus (kesimpulan-kesimpulan khusus) tentang gangguan (perturbasi) dalam orbit Uranus yang diamati (data spesifik).
Penalaran Deduktif bergerak dari sesuatu yang berifat umum kepada yang khusus. jika kita mengetahui S, sedangkan P adalah dari S, maka dapat ditarik kesimpulan tentang P. penarikan kesimpulan dengan cara deduktif tidak menghasilkan pengetahuan baru, karena kesimpulannya telah tersirat pada premisnya.

Contoh Penalaran deduktif :
1. Semua binatang punya mata
2. Srigala termasukbinatang
.:. srigala punya mata

A. Silogisme
     Silogisme adalah cara berpikir formal, yang jarang terjadi dalah kehidupan sehari-hari, kita menemukan polanya saja. Sebuah silogisme terdiri atas tiga term ( mayor, tengah dan minor) dan tiga proposisi (Premis mayor, premis minor, dan kesimpulan).
CONTOH :
1. Premis mayor : semua cendrakiawan adalah manusia pemikir
                                                S                             P(term mayor)
2. Premis minor : Semua ahli filsafat adalah cendrakiawan
                                             S(term minor)           P(term tengah)
3. kesimpulan    : semua ahli filsafat adalah manusia pemikir
                                             S                                   P

B. Persyaratan Silogisme
Di dalam silogisme hanya mungkin terdapat tiga term. Syaratnya sebagai berikut :
Ø  term tengah tidak boleh terdapat dalam kesimpulan.
Ø  dari dua premis negatif tidak dapat ditarik kesimpulan.
Ø  kalau kedua premisnya positif, kesimpulan juga positif.
Ø  term-term yang mendukung proposisi harus jelas, tidak mengandung pengertian ganda/menimbulkan keraguan.
 CONTOH: 1. semua buku mempunyai halaman.
                            2. ruas mempunyai buku.
                            3. ruas mempunyai halaman.
Keterangan : Dari premis mayor partikular dan premis minor negatif tidak dapat ditarik kesimpulan.
premis mayor dalam siogisme mungkin berasal dari teori ilmiah. penarikan kesimpulan dari teori ini mudah diuji. tidak jarang premis mayor berasal dari pendapat umum yang belum dibuktikan kebenarannya.
2. ENTIMEN
     Dalam kehidupan sehari-hari, silogisme yang kita temukan berbentuk entimen, yaitu silogisme yang salah satu premisnya dihilangkan/tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.
 CONTOH:
Ø  menipu adalah dosa karena merugikan orang lain.
               kalimat diatas dapat dipenggal menjadi dua.
                a. menipu adalah dosa.
                b. karena (menipu) merugikan orang lain.
kalimat a merupakan kesimpulan, kalimat b adalah premis minor (bersifat minor) maka silogisme dapat disusun sebagai berikut :
Ø  premis mayor    : ?
Ø  premis minor     : Menipu merugikan orang lain.
Ø  Kesimpulan        : Menipu adalah dosa.
    Dalam kalimat itu, yang dihilangkan adalah premis mayor. perlu diingat bahwa premis mayor bersifat umum, jadi tidak mungkin subyeknya menipu. kita dapat berpikir kembali dan menentukan premis mayornya, yaitu perbuatan yang merugikan orang lain adalah dosa. entimem juga dapat dibuat dengan menghilangkan premis minornya. misalnya, perbuatan yang merugikan orang lain adalah dosa, jadi menipu adalah dosa. untuk mengubah entimen menjadi silogisme, mula-mula kita cari kesimpulannya, kata-kata yang menandakan kesimpulan ialah jadi, maka, karena itu, dengan demikian, dan sebagainya. kalau sudah cari/tentukan premis yang dihilangkan.
Sumber Buku:
Judul buku : Bahasa Indonesia diperguruan tinggi
Penulis        : Minto Rahayu
Penerbit      : PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Sumber lain:
http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran_deduktif

Sunday, January 6, 2013

Karangan bebas dengan menggunakan EYD


Sang Pelukis Awan

Dahulu kala, ada anak laki-laki bernama vino. Vino gemar menggambar. Namun, orang-orang heran dengan caranya menggambar. Ia selalu membayangkan bentuk awan yang dilihatnya. Kemudian, ia menggambarkan bentuk awan tersebut. Jika menurutnya awan itu mirip kerbau , maka ia akan menggambar kerbau.

Ayahnya yang seorang petani pernah menegurnya untuk berhenti menggambar. Karena menurut beliau vino tidak akan bisa menjadi petani jika sepanjang hari yang ia lakukan hanya menggambar. Dan vino akhirnya berjanji tidak akan menggambar lagi. Namun tetap saja, setiap melihat awan, dia kembali membayangkan bentuk awan itu. Kemudian menggambarkannya.

        Waktu berjalan. Kemarau sudah berjalan dua bulan. Ayah Vino tidak bisa bekerja. Vino pun sudah lama berhenti menggambar. Ia tidak pernah lagi melihat awan.

      Suatu hari, ia melihat langit. Ia menemukan segumpal awan dan membayangkan bentuknya. Ternyata awan itu berbentuk orang yang sedang menangis. Kemudian Vino menggambarkannya. Tiba-tiba, awan itu bertambah banyak. Langit menjadi gelap. Akhirnya turun hujan lebat. Ayahnya yang memperhatikan Vino saat menggambar sangat terkejut. Beliau berterima kasih kepada Vino. Ternyata Vino adalah anak yang berguna. Vino sebenarnya heran, ternyata keahliannya menggambar dapat menolong ayah dan keluarganya.

Wacana ilmiah dan non ilmiah


Wacana Ilmiah
Merupakan tulisan yang berisi argumentasi penalaran keilmuan, yang dikomunikasikan lewat bahasa tulis yang formal dengan sistematis-metodis dan sintesis-analitis. Definisi yang lain mengatakan bahwa karya ilmiah (scientific paper) adalah laporan tertulis dan dipublikasi yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.

Ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodolog penulisan yang baik dan benar. Adapun jenis karangan ilmiah yaitu:
1.Makalah           :  karya tulis yang menyajikan suatu masalah yang pembahasannya berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-
2. Kertas kerja   : makalah yang memiliki tingkat analisis lebih serius, biasanya disajikan dalam lokakarya.
3. Skripsi              : karya tulis ilmiah yang mengemukakan pendapat penulis berdasar pendapat orang lain.
4.Tesis                  : karya tulis ilmiah yang sifatnya lebih mendalam daripada skripsi.
5. Disertasi          : karya tulis ilmiah yang mengemukakan suatu dalil yang dapat dibuktikan oleh penulis berdasar data dan fakta yang sahih dengan analisi yang terinci

Contoh wacana ilmiah :
Menyusun sebuah kamus yang benar-benar lengkap sehingga dapat disebut sebagai kamus lengkap memang sangat berat. selain dibutuhkan pikiran, tenaga, waktu, serta biaya yang hampir-hampir tidak dapat dibatasi, ada hal lain yang menjadi syarat kelengkapan itu.

Wacana Non Ilmiah
Karangan nonilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari. Karangan non Ilmiah (Fiksi) adalah biasanya  berupa kisah rekaan. Kisah rekaan itu dalam praktik penulisannya juga tidak boleh dibuat sembarangan, unsur-unsur seperti penokohan, plot, konflik, klimaks, setting dsb.

Ciri-ciri karangan non ilmiah:
a. ditulis berdasarkan fakta pribadi,
b. fakta yang disimpulkan subyektif,
c. gaya bahasa konotatif dan populer,
d. tidak memuat hipotesis,
e. penyajian dibarengi dengan sejarah,
f. bersifat imajinatif,
g. situasi didramatisir, dan
h. bersifat persuasif.

Macam Karya Tulis Non Ilmiah :
Dongeng, cerpen, novel, drama, dan roman.

Contoh wacana non ilmiah :

Raja Tikus dan Penebang Kayu

Suatu hari penebang kayu yang memiliki kebiasaan menebang pohon besar menemukan pohon yang sangat besar di tengah hutan. Ia bersiap untuk menebang pohon itu. Namun, tiba-tiba muncul Raja Tikus. Raja Tikus berkata “Jangan tebang pohon ini. Pohon ini bertuah dan bisa membuat Tuan kaya raya. Jika menebangnya Tuan tidak akan mendapat apa-apa”.
“Apa yang Tuan maksud?” kata Penebang kayu. Raja tikus segera menyelinap ke akar pohon. Kemudian, dia keluar membawa beberapa batang emas dan memberikan emas tersebut kepada penebang kayu.
Penebang kayu segera pulang. Ia menyerahkan emas itu kepada istrinya dan menceritakan kejadian aneh ditengah hutan. Istrinya pun berkata “Kamu telah ditipu oleh Raja Tikus. Di akar pohon itu, tentu saja ada lubang besar. Pasti ada tambang emas disana! Tebang pohon itu sekarang juga dan ambil semua emasnya!”.
Penebang kayu segera melaksanakan perintah istrinya. Akan tetapi, tidak satupun batang emas ia temukan. Ia juga tidak menemukan Raja tikus.
Dengan lesu, ia pulang kerumah. Sampai dirumah betapa terkejutnya Penebang kayu itu. Emas yang diperolehnya dari Raja tikus lenyap. Entah mengapa dan kemana. Istrinya pun hanya bisa diam dan heran.