SISTEM KOLOID
Koloid merupakan
satu jenis campuran homogen yang memiliki sifat yang berbeda dgn larutan biasa.
Sistem koloid memiliki aplikasi yang luas dalam kehidupan, mencakup industri,
pengolahan limbah cair, dan obat-obatan.
A. Sistem Dispersi
Pengertian dari dispersi yaitu penyebaran secara merata zat terdispersi
di dalam medium pendispersi, system dispersi terbagi menjadi larutan, koloid
dan suspensi.
1. Larutan merupakan
campuran bersifat homogen
2. Suspensi adalah dispersi
zat padat di dalam air. Zat terdispersi pada suspensi merupakan zat padat yang
berukuran cukup besar. Padatan ini merupakan gabungan dari molekul-molekul zat
terdispersi.
3. Koloid merupakan
dispersi zat dengan ukuran partikel terdispersi antara 10-7 cm sampai
dengan 10-5 cm.
B. Pengelompokkan Sistem
Koloid
Sistem koloid adalah campuran yang heterogen. Telah diketahui
bahwa terdapat tiga fase zat. Yaitu : padat, cair, dan gas.
1. Sistem koloid fase padat-cair (sol)
Sistem
koloid fase padat-icair disebut sol, yang terbentuk dari fase terdispersi
berupa zat padat dan fase pendispersi berupa cairan sol yang memadat disebut
gel. Contoh : a) agar-agar
b) pectin
c) gelatin
d) cairan
kanji
2. Sistem koloid fase padat-padat (Sol Padat)
Terbentuk
dari fase terdispersi dan fase pendispersi yang sama-sama berwujud zat padat.
3. Sistem koloid fase padat-gas (Aerosol padat)
Terbentuk
dari fase terdispersi berupa padat dan fase pendispersi berupa gas.
4. Sistem koloid fase cair-gas (Aerosol )
Terbentuk
dari fase terdispersi berupa zat cair dan fase pendispersi berupa gas, yaitu
disebut aerosol. Contoh : kabut dan awan. Partikel-partikel zat cair yeng
terdispersi di udara (gas) disebut partikulat cair.
5.
Sistem koloid fase cair-cair (Emulsi)
Terbentuk
dari fase terdispersi berupa zat cair dan medium pendispersi yang juga berupa
cairan. Sistem ini disebut emulsi. Zat penghubung yang menyebabkan pembentukan
emulsi disebut emuldator.
6. Sistem koloid fase cair-padat (Emulsi padat)
Terbentuk
dari fase terdispersi berupa zat cair dan medium pendispersi berupa zat padat.
7. Sistem koloid fase gas-cair (Busa)
Terbentuk
dari fase terdispersi berupa gas dan medium pendispersi berupa zat cair.
8. Sistem koloid fase gas-padat (Busa padat)
Terbentuk
dari fase terdispersi berupa gas dan medium pendispersi berupa zat padat.
C. SIFAT-SIFAT
KOLOID
Secara fisik system koloid terlihat
homogen seperti larutan. Tetapi jika di amati dengan mikroskop, terlihat adanya
perbedaan antara koloid dan larutan, karena system koloid sebenarnya heterogen.
#
GERAK BROWN
Merupakan gerak tidak beraturan, gerak
acak atau gerak zig-zag partikel koloid. Gerak ini terjadi karena terjadi
benturan tidak teratur antar partikel koloid dan medium terdispersi.
Gerak brown pertama kali di amati oleh
Robert Brown (1773-1858) pada tahun 1827. Fenomena
ini dijelaskan oleh Albert Einstein (1879-1955) pada 1905. Menurut Einstein
suatu partikel mikrosopis (hanya dapat di amati dgn mikroskop) yang melayang
dalam suatu medium pendispersi akan menunjukkan suatu gerak acak atau zig-zag,
yang disebabkan oleh medim pendispersi yg menabrak partikel terdispersi dari
berbagai sisi yang tidak sama untuk setiap sisi.
#
EFEK TYNDALL
Jika cahaya dilewatkan ke dalam system
koloid, cahaya yang melewati system koloid tsb akan terlihat lebih terang. Ini
terjadi akibat adanya Efek Tyndall yang merupakan efek penghamburan cahaya oleh
koloid, jika kemudian cahaya tsb ditangkap layar, maka cahaya tsb akan tampak
buram.
Dalam
kehidupan sehari-hari efek tyndall dapat dilihat pada gejala-gejala berikut :
1. Jika sinar matahari masuk
ke dalam ruangan, pada sinar tsb terlihat debu-debu beterbangan (pada daerah yg
berdebu terlihat terang)
2. Jika kita menonton film di gedung bioskop lalu ada asap rokok
mengepul ke atas maka akan terlihat terang lalu gambar di layar menjadi buram.
3. Sorot lampu mobil pada
malam yg berkabut terlihat lebih jelas, tapi jalan tidak terlihat jelas.
#
ADSORBSI
Merupakan penyerapan ion-ion yg menempel
pada permukaan, sedangkan penyerapan di seluruh bagian disebur absorbsi. Muatan
pada partikel koloid bukan disebabkan oleh ionisasi partikel seperti pada
larutan. Sifat adsobsi digunakan pada proses-proses berikut :
. Penjernihan air
. Penghilang kotoran pada pembuatan sirup
. Proses menghilangkan bau badan
. Penggunaan arang aktif
#
KOAGULASI
Merupakan penggumpalan partikel koloid
yang terjadi karena kerusakan stabilitas system koloid atau karena penggabungan
partikel koloid yg berbeda muatan yg membentuk partikel yg lebih berat.
Koagulasi dapat terjadi karena pengaruh pemanasan, pendinginan, penambahan
elektrolit, pembusukan, pencampuran koloid yg berbeda muatan atau karena
elektroforesis. Contoh dalam kehidupan sehari-hari : perebusan telur, pembuatan
yogurt, pembuatan tahu, pembuatan lateks, penjernihan air sungai, pembentukan
delta, pengolahan asap / debu.
#
KOLOID LIOFIL DAN LIOFOB
Pada sol yang bersifat liofil, zat
terdispersi bersifat menarik atau mengikat medium pendispersi. Sedangkan pada
sol yg bersifat liofob, zat terdispersi tidak dapat mengikat medium
pendispersi-nya (air). Koloid liofob berbentuk encer (hampir sama dengan medium
pendispersi), tidak stabil, serta memiliki gerak brown dan efek tyndall. Contoh
koloid liofob : sol emas, sol belerang, sol As2S3
Contoh koloid
liofil : agar-agar, koloid kanji, cat, lem, gelatin, protein (putih telur), dan
tinta warna.
#
KOLOID PELINDUNG
Merupakan suatu system koloid yg
ditambahkan pada suatu system koloid lainnya agar diperoleh suatu system koloid
yg stabil. Contoh : gelatin yg biasa digunakan dalam pembentukan es krim.
#
DIALYSIS
Merupakan proses penyaringan partikel
koloid ion-ion yg teradsorbsi sehingga ion-ion tsb dapat dihilangkan dan zat
terdispersi terbebas dari ion-ion yg tidak diinginkan. Proses dialysis juga
terjadi dlm metabolisme tubuh. Ginjal berfungsi sbg penyaring semipermeable.
Jika ginjal mengalami kerusakan (gagal ginjal), ginjal tidak dapat menyaring
darah dan mengeluarkan urea yg bersifat racun, karena itu penderita gagal
ginjal melakukan proses cuci darah yaitu, proses dialysis yg menghilangkan urea
dari darah.
#
SISTEM KOLOID DLM PENGOLAHAN AIR
Air sungai merupakan koloid yg terbentuk
dari tanah liat yg terdispersi dlm air. Pengolahan air sungai menjadi air
bersih dapat dilakukan melalui tahap-tahap berikut :
.
penggumpalan
. proses
penyaringan
. proses
adsorbsi
. proses
desinfeksi
APLIKASI KOLOID
* Pemutihan gula
Gula tebu yg masih berwarna dapat diputihkan. Dengan melarutkan
gula kedalam air, lalu larutan dialirkan melalui system koloid tanah diatome
atau karbon. Partikel koloid akan mengadsorbsi zat warna tsb. Partikel-partikel
koloid tsb mengadsorbsi zat warna dari gula tebu sehingga dapat berwana putih.
* Penggumpalan darah
Darah mengandung sejumlah koloid protein bermuatan negative. Jika
terjadi luka, maka luka tsb dapat diobati dgn pensil stiptik atau tawas yg
mengandung ion-ion AL3+
dan Fe3+ . Ion-ion tsb
membantu agar partikel koloid di protein bersifat netral sehingga proses
penggumpalan darah dapat lebih mudah dilakukan.
* Penjernihan air
Air keran (PDAM) yg ada saat ini mengandung partikel-partikel
koloid tanah liat, lumpur, dan berbagai partikel lainnya yg bermuatan negative.
Untuk layak diminum, harus dilakukan beberapa langkah agar partikel koloid tsb
dapat dipisahkan. Hal itu dilakukan dgn menambah tawas (AL2SO4)3 . Ion Al3 yg terdapat pada tawas tsb
akan terhidrolisis membentuk partikel koloid Al(OH)3 yg bermuatan positif . Setelah itu Al(OH)3 menghilangkan
muatan-muatan negative dari partikel koloid tanah liat/lumpur dan terjadi
koagulasi pada lumpur.
No comments:
Post a Comment